Golekinfo.com | SEMARANG —pagelaran wayang kulit malem Jum'at Kliwon terselenggara berkat kerja sama antara Disbudpar Kota Semarang dan Teater Lingkar sebagai event budaya kota Semarang, Tradisi budaya Jawa kembali menemukan denyutnya dalam Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-333 yang digelar oleh Teater Lingkar di Taman Budaya Raden Saleh Semarang (TBRS), Kamis malam, 22 Januari 2026. Pagelaran ini menghadirkan lakon “Lahire Anoman” dibawakan oleh dalang Ki Agung Mangku Darsono, Dari Dung Banteng Sragen,,
Di tengah arus hiburan modern yang serba cepat, pagelaran ini menjadi ruang teduh bagi masyarakat untuk kembali menyimak nilai-nilai luhur yang hidup dalam wayang. Kisah kelahiran Anoman bukan sekadar legenda, melainkan simbol keberanian, kesetiaan, dan pengabdian nilai yang tetap relevan lintas zaman.
Acara ini turut mendapat perhatian khusus dari Dr. H. Anang Budi Utomo, S.Sn., M.Pd., yang hadir langsung menyaksikan pagelaran. Selain dikenal sebagai Ketua PEPADI Kota Semarang, beliau juga merupakan anggota DPRD Kota Semarang yang selama ini aktif mendorong pelestarian seni tradisi dan penguatan sanggar-sanggar budaya di daerah.
Dalam wawancara di sela acara, Anang menegaskan bahwa wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan.
“Wayang adalah identitas kultural kita. Di dalamnya ada pendidikan karakter, filosofi hidup, dan sejarah. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ruang-ruang seni seperti ini tetap hidup dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan nyata bagi pelaku seni, khususnya komunitas dan sanggar.
“Bukan hanya event besar, tapi latihan rutin, regenerasi dalang muda, pengrawit, hingga sanggar bocah harus kita perhatikan. Seni tradisi tidak bisa hidup sendiri, perlu ekosistem yang sehat,” tambahnya.
Kehadiran unsur regenerasi tampak jelas melalui extra show Sindhu Laras Bocah, yang menjadi warna tersendiri dalam pagelaran malam itu. Anak-anak tampil dengan penuh percaya diri, membuktikan bahwa wayang masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Ketua Teater Lingkar Semarang Ki Sindhunata Gesit S.Sn, M.Sn
Nguri2 budaya dengan Event Budaya pagelaran wayang kulit malam Jumat Kliwon ini meneruskan tradisi selama ini dan Ki sindhunata mengungkapkan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak.
“Kami percaya kecintaan pada wayang harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak bukan hanya diajari menabuh atau nembang, tapi juga memahami makna di balik setiap adegan,” tuturnya.
Menurutnya, dukungan dari tokoh seperti Dr. Anang Budi Utomo memberi semangat besar bagi para pelatih dan anak-anak.
“Ketika seni bocah diperhatikan, anak-anak merasa dihargai. Ini penting untuk menjaga semangat mereka agar terus belajar dan bangga dengan budayanya sendiri,” katanya.
Pagelaran Malam Jumat Kliwon yang telah memasuki angka ke-333 ini menjadi bukti konsistensi Teater Lingkar dalam menjaga tradisi. Lebih dari sekadar pertunjukan, acara ini menjelma sebagai ruang pertemuan antara seniman, masyarakat, dan pemangku kebijakan—bersama-sama merawat warisan budaya agar tetap bernapas di tengah perubahan zaman.
Di TBRS malam itu, wayang tidak hanya bergerak di balik kelir, tetapi juga hidup dalam dialog, dukungan, dan harapan akan masa depan seni tradisi yang tetap menyala.



Posting Komentar untuk "Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-333, Tradisi Hidup yang Terus Dijaga di Semarang"