zmedia

Rawat Jejak Sejarah Jawa di Lampung, Ahmad Luthfi Komit Kirim Gamelan ke Desa Bagelen

 


Golekinfo.com | Lampung – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya merawat ikatan sejarah dan kebudayaan Jawa di tanah Lampung. Salah satu wujud konkret komitmen itu adalah rencana pengiriman seperangkat gamelan ke Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, sebagai penguat identitas kultural warga transmigran dan keturunan Jawa Tengah yang telah menetap lintas generasi.

Komitmen tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat berdialog dengan warga di Balai Desa Bagelen, Rabu (7/1). Ia menyebut pengiriman gamelan akan difasilitasi langsung oleh Direktur Utama Bank Jateng.

“Gamelannya nanti dikirim langsung oleh Direktur Utama Bank Jateng ke sini. Sampun beres,” ujar Ahmad Luthfi di hadapan warga.

Menurut Ahmad Luthfi, gamelan bukan sekadar perangkat seni musik, melainkan simbol identitas sekaligus perekat kebudayaan Jawa yang perlu terus dirawat di mana pun masyarakat Jawa berada. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga hubungan kultural dan emosional dengan warga keturunan Jawa Tengah di daerah transmigrasi.

“Ini sumbangan untuk nguri-uri sejarah dan budaya Jawa,” tegasnya.

Bantuan seperangkat gamelan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi warga Desa Bagelen dalam merawat warisan budaya leluhur. Diharapkan, gamelan itu dapat menjadi ruang ekspresi seni sekaligus media pewarisan nilai budaya kepada generasi muda.

Permintaan gamelan sebelumnya disampaikan Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, dalam dialog bersama Gubernur Ahmad Luthfi. Ia menuturkan, masyarakat Desa Bagelen berharap adanya kenang-kenangan yang bermakna dan mampu menjadi penghubung kultural antargenerasi, mengingat sejarah panjang desa tersebut dengan Jawa Tengah.

“Kami berharap ada kenang-kenangan untuk desa kami yang tidak mungkin terlupakan, yaitu seperangkat gamelan,” ujar Merdi.

Menurutnya, keberadaan gamelan sangat penting untuk menghidupkan kegiatan kebudayaan di desa. Selama ini, setiap peringatan hari jadi Desa Bagelen selalu diwarnai pertunjukan wayang kulit—tradisi yang terus dijaga sejak desa itu berdiri pada 1905 hingga perayaan terakhir pada 2025.

“Itulah kebanggaan kami sebagai orang Jawa, bisa terus menghidupkan budaya dengan tetap menghormati kebudayaan lokal yang ada,” kata Merdi.

Ahmad Luthfi menilai permintaan tersebut selaras dengan ikatan historis dan sosiokultural antara Jawa Tengah dan Lampung yang telah terjalin ratusan tahun. Ia menyebut, sebagian besar penduduk Provinsi Lampung merupakan keturunan suku Jawa, terutama dari Jawa Tengah.

“Di Lampung ini sekitar 60 persen warganya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menjelaskan, relasi tersebut bermula sejak masa kolonial Hindia Belanda, ketika warga dari wilayah Bagelen, Purworejo, dikirim ke Lampung melalui program kolonisasi. Ikatan itu kemudian berlanjut dan menguat melalui program transmigrasi setelah Indonesia merdeka, yang membawa gelombang besar masyarakat Jawa Tengah menetap dan berkontribusi dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di Lampung.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Luthfi juga berpesan kepada masyarakat asal Jawa Tengah di perantauan agar terus mampu beradaptasi dan menyatu dengan lingkungan serta kearifan lokal. Menurutnya, banyak warga transmigran yang telah puluhan tahun bermukim di Lampung, bahkan lahir dan tumbuh besar di tanah transmigrasi, sehingga memiliki komitmen kuat untuk membangun daerah tersebut.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan daerah masing-masing,” pesan Ahmad Luthfi.

Posting Komentar untuk "Rawat Jejak Sejarah Jawa di Lampung, Ahmad Luthfi Komit Kirim Gamelan ke Desa Bagelen"