Golekinfo.com |Boyolali — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan tidak ada lagi desa berstatus sangat tertinggal pada 2025. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, fokus pembangunan desa diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan desa mandiri dan desa maju sebagai penggerak perekonomian daerah.
Ahmad Luthfi mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari intervensi kebijakan yang konsisten, dengan menempatkan desa sebagai basis utama pembangunan. “Semua kebijakan pemerintah harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah, termasuk di level desa,” kata Ahmad Luthfi usai puncak peringatan Hari Desa Nasional di Lapangan Kawasan Kebun Raya Indrokilo, Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Kamis, 15 Januari 2026.
Berdasarkan data Indeks Desa 2025, tidak ada lagi desa dengan kategori sangat tertinggal di Jawa Tengah. Sebanyak 28,27 persen desa telah berstatus desa mandiri, 3.921 desa atau sekitar 50,2 persen masuk kategori desa maju, dan 1.666 desa berada dalam kategori desa berkembang. Dari total 7.810 desa yang tersebar di Jawa Tengah, hanya tersisa 15 desa tertinggal yang menjadi prioritas intervensi agar segera naik kelas.
“Jumlah desa di Jawa Tengah paling besar di Indonesia. Hampir 78 persen desa kita sudah masuk kategori mandiri, maju, dan berkembang. Tinggal 15 desa yang tertinggal dan itu menjadi fokus utama penanganan,” ujar Ahmad Luthfi.
Ia menegaskan, dengan jumlah desa yang besar, pemerintah provinsi berkomitmen mendorong pembangunan desa secara berkelanjutan. Menurutnya, desa merupakan ujung tombak pembangunan daerah sekaligus nasional, sehingga harus diperkuat dari sisi ekonomi, energi, hingga sumber daya manusia.
Berbagai program desa yang dijalankan Pemprov Jawa Tengah menunjukkan hasil konkret. Hingga kini, terdapat 154 kawasan perdesaan yang dikembangkan di enam sektor, meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, industri, dan peternakan. Selain itu, Jawa Tengah memiliki 2.331 Desa Mandiri Energi, yang terdiri atas 2.138 desa mandiri energi inisiatif, 165 desa mandiri energi berkembang, dan 28 desa mandiri energi mapan.
Di sektor pariwisata, tercatat 899 desa dan kampung wisata, dengan rincian 685 desa wisata rintisan, 173 desa wisata berkembang, dan 39 desa wisata maju. Program-program tersebut diperkuat melalui skema Satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Satu Desa Binaan sebagai strategi penanggulangan kemiskinan.
Pada 2025, sebanyak 76 desa mendapat pendampingan dari 49 OPD Provinsi Jawa Tengah. Sementara sepanjang 2019–2025, total desa dampingan mencapai 452 desa dengan dukungan anggaran sekitar Rp112,5 miliar yang bersumber dari APBN, APBD, Dana Desa, dan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kita punya desa unggulan, mulai dari desa mandiri energi—sekitar 60 persen energinya berasal dari gas alam dan biogas—hingga desa mandiri sampah dan berbagai inovasi lainnya,” kata Ahmad Luthfi.
Ia juga menyoroti peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian Jawa Tengah. Dari sekitar 4,2 juta UMKM di provinsi ini, hampir 3 juta berada di wilayah pedesaan. Sebagian di antaranya telah berkembang menjadi Desa Ekspor, yakni desa dengan UMKM skala menengah yang memiliki kualifikasi ekspor.
“Itu potensi desa yang harus terus kita dorong. UMKM menengah yang siap ekspor perlu pendampingan dan penguatan, termasuk melalui kerja sama dengan Kementerian Perdagangan,” ujarnya.
Menurut Ahmad Luthfi, puncak peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang dipusatkan di Boyolali menjadi momentum strategis untuk mengungkit pergerakan UMKM dan ekonomi desa di Jawa Tengah. “Kepercayaan pemerintah pusat ini akan memberi dampak positif, terutama bagi ekonomi mikro di Jawa Tengah,” katanya.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan desa merupakan subjek pembangunan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut Hari Desa Nasional sebagai momentum untuk menyatukan energi dalam membangun desa.
“Kita ingin ekonomi desa bangkit dan tumbuh. Ini bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto tentang pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Membangun desa sejatinya adalah membangun Indonesia,” ujar Yandri.

Posting Komentar untuk "Tak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal di Jawa Tengah, Ahmad Luthfi Genjot Desa Mandiri dan UMKM Desa"